PENGADILAN Distrik Oslo menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada Marius Borg Høiby, 29, putra dari Putri Mahkota Norwegia, Mette-Marit. Tiga hakim di ruang sidang 250 menyatakan Høiby terbukti bersalah atas dua dakwaan pemerkosaan serta sejumlah pelanggaran hukum lainnya. Meski demikian, pengadilan membebaskannya dari dua dakwaan pemerkosaan tambahan.
Høiby tidak hadir langsung di ruang sidang karena alasan kesehatan yang tidak disebutkan secara rinci, tetapi ia mengikuti jalannya persidangan melalui sambungan video. Atas putusan ini, tim pengacara Høiby menyatakan akan mengajukan banding. Sebelumnya, jaksa penuntut umum menuntut hukuman tujuh tahun tujuh bulan penjara, sementara pembela meminta keringanan hukuman menjadi 18 masehi.
Kasus pemerkosaan ini melibatkan para korban yang berada dalam kondisi tidur atau tidak berdaya. Tuduhan tersebut terungkap setelah polisi menemukan rekaman video di ponsel Høiby saat ia ditangkap. Salah satu korban yang hadir di pengadilan tampak menangis saat mendengarkan pembacaan putusan. Pengadilan juga memerintahkan Høiby untuk membayar ganti rugi sebesar 640.000 kroner (sekitar Rp915 juta) kepada empat korban wanita, termasuk mantan kekasihnya yang merupakan pembuat konten, Nora Haukland.
Selain kasus kekerasan seksual, Høiby dinyatakan bersalah atas penganiayaan terhadap Haukland dan tindakan kekerasan fisik serius terhadap pasangan lainnya di sebuah apartemen di kawasan Frogner, Oslo, pada Agustus 2024 lalu.
Usai pembacaan vonis, pengacara Høiby, Petar Sekulic, sempat meminta agar kliennya dibebaskan dari tahanan agar dapat menghabiskan waktu bersama ibunya, Putri Mahkota Mette-Marit, yang saat ini dalam kondisi sakit parah akibat fibrosis paru dan tengah menunggu transplantasi paru-paru. Namun, pengadilan menolak permohonan tersebut karena adanya risiko Høiby kembali menghubungi korban penganiayaan yang sebelumnya pernah ia datangi dengan melanggar perintah penahanan.
Meskipun Marius Borg Høiby bukan merupakan anggota resmi keluarga kerjaan, skandal hukum ini memberikan dampak besar terhadap citra monarki Norwegia. Pihak istana memilih untuk tidak memberikan banyak komentar atas putusan tersebut.
Melalui surat elektronik, perwakilan istana menyatakan, “Perkara ini telah dipertimbangkan pengadilan, dan kami tidak memiliki komentar mengenai hasilnya.”
Pakar hubungan masyarakat dan profesor emerita dari BI Norwegian Business School, Peggy Simcic Brønn, menilai bahwa situasi ini merupakan krisis institusional bagi kerajaan.
“Cara mereka menanganinya adalah dengan membiarkan orang tersebut dihukum, membiarkannya menjalani masa tahanan, tetapi berusaha memperbaiki kerusakan yang telah diperbuat orang tersebut terhadap reputasi mereka dan dampaknya bagi keluarga kerajaan itu sendiri,” ujar Brønn. (BBc/Z-2)