DI tengah pandemi covid-19 pada 2020, ketika banyak usaha justru berhenti berjalan, Eka Budi Utami, 39 tahun, memilih mengambil peluang baru. Setelah memutuskan berhenti bekerja usai melahirkan, perempuan asal Purworejo itu mulai membangun usaha modest fashion muslim bernama Naeka. Berawal dari penjualan daring sederhana, Naeka kini berkembang menjadi brand mukena premium yang berhasil menembus pasar internasional seperti Singapura, Kanada, hingga Senegal.
Perjalanan usaha tersebut juga mendapat dukungan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Lewat Rumah BUMN BRI Jakarta, Eka mengikuti berbagai pelatihan mulai dari pengelolaan keuangan, pengembangan kemasan produk, hingga strategi memperluas pasar.
Namun, sejak awal merintis usaha, Eka dihadapkan pada situasi sulit. Saat membangun konveksi sendiri, ia mengalami penipuan dari rekan produksi yang dipercaya. Mesin jahit sudah dibeli dan penjahit direkrut, tetapi orang tersebut pergi sambil membawa gaji pekerja. Meski sempat terpukul dan merugi di tengah pandemi, Eka memilih bertahan dan melanjutkan usahanya.
Belajar dari Kegagalan
Awalnya, Naeka bukanlah brand modest fashion muslim. Eka dan tim sempat memulai usaha di bidang pakaian bayi dan anak. Mereka bahkan sudah menyiapkan berbagai kebutuhan produksi, mulai dari stok barang, sertifikasi, hingga standar produk. Namun, bisnis tersebut dinilai sulit berkembang.
“Karena waktu itu habis melahirkan, saya idealis ingin bikin produk bayi. Tapi ternyata kami belajar dari kegagalan dulu,” ujarnya kepada Media Indonesia di kantor pusat Naeka, Jagakarsa, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Di tengah proses merintis usaha itu, Eka bersama adik iparnya, Rina, kemudian membangun brand dengan nama Naeka. Nama tersebut merupakan gabungan dari Na yang diambil dari nama Rina dan Eka.
Dari situ, mereka mulai mencoba masuk ke produk muslimah dengan sistem maklon jilbab. Respons pasar ternyata cukup baik. Produk yang diproduksi selalu habis terjual sehingga akhirnya mereka melihat peluang lebih besar di segmen modest fashion muslim.
Meledak saat Pandemi
Naeka kemudian meluncurkan produk mukena pertamanya pada Ramadan 2020. Saat itu mereka masih menggunakan kain motif yang dibeli dari toko kain karena belum memahami proses desain dan printing sendiri.
Meski baru mulai dan belum memiliki tim maupun toko fisik, produk mukena Naeka langsung mendapat respons pasar yang cukup tinggi. Pada Lebaran pertama saat pandemi covid-19, omzet penjualan bahkan mencapai Rp45 juta.
Eka mengaku terkejut karena saat itu Naeka hanya dipasarkan secara daring tanpa dukungan promosi besar. Namun respons konsumen yang positif membuatnya yakin untuk terus mengembangkan lini mukena.
Menurutnya, pandemi justru menjadi momentum berkembangnya Naeka. Memasuki tahun kedua pandemi, penjualan terus meningkat dan usaha yang dirintisnya berkembang lebih besar dibanding saat awal berdiri.
“Pandemi tuh bukan jadi penghalang bisnis kami. Justru di tahun kedua covid-19, makin besar lagi omzet yang kami dapat,” katanya.
Pengalaman Pahit
Seiring meningkatnya permintaan pasar, Naeka mulai memperkuat kapasitas produksinya dengan membangun konveksi sendiri pada 2021. Langkah itu diambil untuk menjaga kualitas produk sekaligus memastikan proses produksi dapat berjalan lebih stabil. Namun di balik perkembangan usaha tersebut, Eka harus menghadapi pengalaman pahit.
Saat mulai membangun konveksi, Eka mengaku belum memiliki pengalaman di bidang produksi garmen. Karena itu, ia mempercayakan operasional kepada seseorang yang dinilai memahami proses konveksi. Orang tersebut awalnya menawarkan bantuan untuk membangun sistem produksi, mulai dari merekrut penjahit hingga mengatur alur kerja.
Namun setelah mesin dan berbagai kebutuhan produksi dibeli, orang yang dipercaya tersebut justru menghilang. Tidak hanya meninggalkan operasional konveksi, ia juga membawa gaji para penjahit yang saat itu sudah bekerja.
“Beberapa minggu penjahit tidak digaji. Ternyata modusnya memang seperti itu dan pernah juga terjadi di tempat lain,” tuturnya.
Meski mengalami kerugian, Eka memilih tetap melanjutkan usaha karena seluruh alat produksi sudah tersedia dan para pekerja tetap membutuhkan pekerjaan, terutama di tengah pandemi covid-19 pada 2021.
Mempertahankan Nilai
Naeka berfokus pada mukena bermotif cetak berbahan sutera (silk) premium dengan ciri khas motif bunga berwarna pastel, didukung material yang ringan, halus, dan sejuk sehingga menunjang kenyamanan sekaligus menghadirkan tampilan yang elegan.
Naeka kemudian memperkuat identitas produknya di segmen premium. Mukena yang dijual memiliki rentang harga mulai dari Rp255 ribu hingga Rp685 ribu untuk produk full printing dengan detail renda.
Eka mengaku tetap mempertahankan kualitas premium meski banyak kompetitor menawarkan harga lebih murah. Menurutnya, pasar premium tetap memiliki daya beli selama produk memiliki nilai dan kualitas yang konsisten.
“Kita mesti punya value sendiri,” tegasnya.
Ia juga menilai salah satu tantangan terbesar dalam membangun usaha adalah menemukan DNA produk yang tepat. Setelah sempat gagal di bisnis produk bayi, ia akhirnya menemukan bahwa produk modest fashion muslim menjadi bidang yang paling sesuai dengan dirinya.
“Kalau waktu itu saya menyerah karena produk bayi, mungkin Naeka tidak ada sampai sekarang,” katanya.
Bangun Sistem Internal
Saat ini Naeka memiliki konveksi sendiri dengan tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari Garut, Cilacap, dan Jawa Tengah. Sistem produksi dilakukan secara internal mulai dari penjahitan hingga quality control (QC).
Menurut Eka, keberadaan konveksi sendiri menjadi penting untuk menjaga kualitas produk agar tetap konsisten. Ia mengaku pernah menggunakan jasa konveksi luar, namun hasil jahitan dinilai tidak sesuai standar.
“Kalau di luar kadang jahitannya melintir. Akhirnya kami putuskan semua dari internal supaya QC lebih terjaga,” tegasnya.
Naeka juga tengah mengurus berbagai sertifikasi dan legalitas usaha, termasuk TKDN dan izin industri, agar nantinya dapat masuk ke proyek pemerintah maupun memperluas pasar retail modern.
Selain menjaga kualitas jahitan, Naeka juga mempertahankan kualitas bahan. Eka mengaku pernah mencoba menurunkan kualitas bahan agar harga lebih murah, namun produk tersebut justru tidak diminati pelanggan.
“Ketika dibuat lebih murah, malah tidak ada yang beli. Berarti memang pasar kami ada di segmen itu,” ujarnya.
Pengembangan bisnis Naeka mulai semakin terarah setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2023. Saat itu, Eka mengetahui informasi pendaftaran UMKM binaan melalui Instagram BRI dan mengikuti proses kurasi. Setelah lolos seleksi, Naeka mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI Jakarta. Melalui program tersebut, peserta mendapatkan pendampingan terkait pengelolaan keuangan, perhitungan modal usaha, penataan display produk, hingga pengembangan kemasan atau packaging produk.
Menurut Eka, salah satu materi yang paling membantu adalah pemisahan pencatatan keuangan pribadi dan usaha. Saat ini Naeka bahkan memiliki manager finance khusus untuk memastikan laporan keuangan usaha lebih tertata.
Selain itu, Rumah BUMN BRI juga memberikan berbagai masukan terkait packaging agar produk lebih siap masuk pasar global. Naeka kemudian mulai menggunakan kemasan art box yang dinilai lebih premium dan profesional.
“Kalau mau go global, packaging itu penting banget,” ucapnya.
BRI, lanjutnya, juga memberikan dukungan melalui berbagai program promosi dan transaksi digital. Salah satunya melalui program potongan harga khusus bagi pelanggan yang menggunakan debit maupun BRImo. Menurut Eka, program tersebut cukup membantu meningkatkan transaksi sekaligus menguntungkan konsumen.
Eksposur
Selain itu, Eka juga berpandangan BRI menjadi pihak yang aktif mendukung eksposur UMKM melalui berbagai program bazaar dan promosi. Selain pelatihan, Naeka juga rutin dilibatkan dalam berbagai bazar UMKM yang difasilitasi BRI dan Rumah BUMN.
Keikutsertaan dalam bazaar pun dinilai memberikan dampak besar terhadap eksposur merek karena semakin banyak masyarakat mengenal produk Naeka.
“Orang jadi makin tahu kalau brand ini ada,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat mengikuti Bazar UMKM Gerai Nusantara di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada 2023 lalu. Dari kegiatan tersebut, omzet penjualan Naeka meningkat sekitar Rp45 juta.
Menariknya, pembeli produk Naeka tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.
“Aku seneng banget bisa dapat kesempatan itu dari BRI yang aktif mengajak kami mengikuti bazar,” imbuhnya.
Naeka juga pernah mengikuti business matching dalam kegiatan yang mempertemukan UMKM dengan buyer internasional. Dalam salah satu pertemuan pada 2025, Eka bertemu dengan calon buyer asal Senegal yang tertarik memasarkan produk Naeka di negaranya.
Menembus Pasar Global
Buyer tersebut meminta penyesuaian bahan karena kondisi cuaca di Senegal berbeda dengan Indonesia. Jika di Indonesia produk silk cukup nyaman digunakan, di Senegal bahan katun dinilai lebih cocok karena cuaca yang panas dan tingkat kelembapan rendah.
Selain Senegal, Naeka juga memiliki pelanggan rutin dari Singapura dengan nilai transaksi mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta dalam sekali pembelian. Produk Naeka juga pernah dibeli pelanggan dari Kanada.
Menurutnya, hal itu menjadi bukti kualitas produk lokal mampu bersaing di pasar internasional.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini masih berada pada biaya logistik dan ekspedisi internasional yang cukup mahal.
“Memang masalah ongkos pengiriman ke luar negeri itu menjadi sesuatu yang fundamental bagi UMKM. Karena ini akan memengaruhi cost dan harga produk,” ucapnya.
Di sisi lain, Naeka juga aktif mengikuti berbagai event modest fashion. Salah satunya melalui Jakarta Muslim Fashion Week 2026 yang membawa produk Naeka tampil hingga ke Jepang.
Eka juga menilai penting bagi UMKM untuk mulai mengurus formalitas usaha seperti sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan legalitas produk agar dapat masuk ke marketplace besar maupun pusat perbelanjaan modern.
Melalui berbagai pelatihan dan business matching, Eka merasa peluang ekspor untuk UMKM modest fashion Indonesia sebenarnya cukup besar.
Menurutnya, produk Naeka sudah mulai diterima di beberapa negara seperti Singapura, Senegal, dan Kanada. Hal itu menjadi bukti bahwa kualitas produk lokal mampu bersaing di pasar internasional.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini masih berada pada biaya logistik dan ekspedisi internasional yang cukup mahal.
Eka berharap ke depan semakin banyak program lanjutan yang lebih fokus pada kebutuhan UMKM yang sudah berada di tahap berkembang, terutama terkait ekspor.
“Kalau ada workshop advance tentang ekspor akan sangat membantu UMKM yang sudah siap go global,” ujarnya.
Ia juga menginginkan program business matching atau pertemuan bisnis yang mempertemukan buyer global dengan UMKM lokal dapat terus diperluas karena dinilai efektif membuka akses pasar internasional.
Menurutnya, persaingan di industri modest fashion memang sangat besar. Namun ia percaya setiap usaha memiliki rezeki masing-masing selama tetap menjaga kualitas dan konsisten membangun identitas produk.
“Yang penting konsisten dan jaga kualitas,” katanya.
Alami Pertumbuhan
Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana mengatakan, brand modest fashion Naeka menjadi salah satu UMKM yang mengalami pertumbuhan penjualan setelah mengikuti berbagai program pendampingan dari BRI. Menurutnya, Naeka beberapa kali dilibatkan dalam kegiatan bazar dan pameran UMKM yang diselenggarakan BRI.
“Setelah mengikuti program-program yang ditawarkan secara gratis oleh BRI, mereka mengalami pertumbuhan penjualan,” kata Jajang saat dihubungi Media Indonesia.
Ia menjelaskan, BRI juga menghadirkan program BRIncubator untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pelaku usaha. Program tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan bagi UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar global.
“Para UMKM akan mendapatkan akses pasar seperti bazar dan pameran yang diberikan secara gratis oleh BRI,” ujarnya.
Tantangan Permodalan
Meski demikian, Jajang mengakui masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi UMKM, terutama saat ingin menembus pasar ekspor. Salah satu kendala terbesar ialah permodalan, khususnya ketika pelaku usaha mendapatkan pesanan dari pembeli luar negeri dengan sistem pembayaran setelah barang diterima.
“Beberapa UMKM ketika mendapatkan buyer dari luar negeri, mereka terkendala pada pembayarannya. Pembayaran biasanya dilakukan setelah barang sampai di sana. Sementara UMKM perlu modal yang cukup besar untuk proses produksi dan pengiriman supaya usaha mereka tetap berkembang,” tegasnya.
Menurut Jajang, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, agar UMKM memiliki akses pembiayaan dan pendampingan yang lebih kuat untuk ekspor.
“Perlu dukungan penuh juga dari pemerintah untuk mengawal UMKM ini bisa sampai ekspor,” katanya.
Minim Pengelolaan SDM
Selain permodalan, tantangan lain yang masih banyak ditemui ialah pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Ia menilai banyak pelaku UMKM masih mengerjakan seluruh proses bisnis secara mandiri, mulai dari produksi, pemasaran, hingga administrasi toko daring, sehingga usaha sulit berkembang secara optimal.
“Beberapa UMKM yang menurut saya sudah meningkat itu ketika mereka sudah berani merekrut SDM,” ujarnya.
Menurutnya perekrutan tenaga khusus untuk mengelola media sosial maupun marketplace dapat membantu meningkatkan pertumbuhan penjualan digital UMKM.
“SDM khusus seperti mengelola admin media sosial dan marketplace itu penting. Sehingga ada pertumbuhan di marketplace yang membuat UMKM terus berkembang,” katanya.
Digitalisasi UMKM
Jajang juga menyoroti masih rendahnya optimalisasi digitalisasi di kalangan UMKM binaan. Menurutnya, pemanfaatan platform digital kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar UMKM mampu bertahan di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang semakin mengarah ke online.
Banyak pelaku usaha yang sudah memiliki akun marketplace atau media sosial bisnis, tetapi belum mampu mengelolanya secara konsisten. Permasalahan sederhana seperti lupa kata sandi email, akun toko daring, hingga tidak memahami pengelolaan platform digital masih sering ditemui dalam proses pendampingan.
“Kami mendorong digitalisasi UMKM, tetapi masih banyak yang terkendala hal sederhana seperti lupa password email atau akun toko online. Kadang mereka sudah punya toko online, tetapi tidak bisa maintain karena lupa akunnya,” ujar Jajang.
Karena itu, pendampingan yang dilakukan Rumah BUMN tidak hanya berfokus pada strategi pemasaran digital, tetapi juga hal-hal teknis dasar yang sering dianggap sepele. Mulai dari membantu pelaku usaha membuat akun digital, mengelola keamanan data, hingga memahami cara mengoperasikan marketplace dan media sosial bisnis secara berkelanjutan.
Melalui pendampingan tersebut, UMKM diharapkan tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu bertransformasi menuju usaha yang mandiri dan berkelanjutan di era digital. (H-2)