SETENGAH abad setelah pendaratan bersejarah wahana Viking 1 milik NASA di Mars pada 1976, perdebatan mengenai apakah misi tersebut berhasil menemukan tanda-tanda kehidupan mikroba di Planet Merah masih terus berlanjut di kalangan komunitas ilmiah.
Saat mendarat di permukaan Mars, Viking 1 dan kembarannya, Viking 2, membawa laboratorium biologi khusus untuk menganalisis sampel tanah. Salah satu alat utamanya adalah Gas Chromatograph-Mass Spectrometer (GCMS) yang dirancang untuk mendeteksi molekul organik sebagai bahan dasar kehidupan.
Sebagian besar ilmuwan pada saat itu menyimpulkan bahwa Viking tidak menemukan bukti kehidupan. Kesimpulan ini diambil terutama karena instrumen GCMS tidak mendeteksi adanya molekul organik di dalam tanah Mars yang diuji.
Pandangan Baru dan Perdebatan Data
Meski konsensus umum saat itu menyatakan Mars bebas dari kehidupan, sejumlah ilmuwan kini menilai kembali hasil eksperimen tersebut dengan pemahaman kimia modern.
Kimiawan Dr. Steven Benner berargumen penafsiran data pada era 1970-an mengalami kekeliruan. Menurut analisisnya, instrumen Viking kemungkinan besar berhasil merekam keberadaan mikroba autotrofik dengan kepadatan sekitar 1.000 sel per gram tanah.
“Viking kemungkinan besar menemukan kehidupan mikroba autotrofik di Mars, sekitar 1.000 sel per gram, kira-kira sesuai dengan apa yang Anda harapkan berdasarkan analogi di Bumi,” kata Benner.
Sebab lain dari ketidaksesuaian hasil eksperimen di masa lalu adalah ditemukannya senyawa perklorat di tanah Mars oleh misi-misi setelahnya, seperti pendarat Phoenix pada 2008. Perklorat dapat merusak dan menghancurkan bahan organik ketika dipanaskan dalam proses pengujian sampel oleh instrumen GCMS Viking. Hal ini memicu dugaan pemanasan tanah saat eksperimen justru memusnahkan jejak organik yang hendak dicari.
Ketidakpastian Hasil Eksperimen
Di sisi lain, tidak semua peneliti sepakat dengan klaim ditemukannya mikroba tersebut. Eksperimen lain yang dirancang untuk mendeteksi metabolisme mikroba memang sempat menunjukkan reaksi kimia awal yang positif. Namun, penambahan nutrisi tahap kedua dalam pengujian tersebut tidak menunjukkan respons lanjutan.
Eksperimen yang tidak menunjukkan reaksi berkelanjutan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan peneliti. Beberapa ilmuwan menduga reaksi awal yang terdeteksi bukan disebabkan oleh aktivitas biologis, melainkan respons kimia dari tanah Mars yang sangat oksidatif.
Hingga kini, perdebatan mengenai data Viking 1 tetap menjadi salah satu topik paling dinamis dalam astrobiologi. Hasil penelitian tersebut terus menjadi landasan penting bagi misi eksplorasi Mars modern dalam melacak potensi kehidupan di masa lalu maupun masa kini. (Space/Z-2)