Nama komedian sekaligus penulis Raditya Dika pernah menjadi trending topic di media sosial Twitter (X) lantaran kemiripan wajahnya dengan salah satu bintang sepak bola yang tengah berlaga di panggung dunia, Miguel Almiron.
Raditya Dika pun mengakui bahwa dirinya memang punya kemiripan wajah dengan Miguel Almiron, pesepak bola asal Paraguay. “Di sini gua mau klarifikasi, itu bukan gue, tetapi Miguel Almiron, orang dari Paraguay,” ujar Raditya Dika beberapa waktu lalu.
Profil dan Perjalanan Karier Miguel Almiron
Pemain bernama lengkap Miguel Angel Almiron Rejala ini lahir di Asuncion, Paraguay, pada 10 Februari 1994. Karier sepak bolanya dimulai saat ia bergabung dengan klub lokal, Cerro Porteno, pada periode 2008 hingga 2012, sebelum akhirnya menembus tim utama pada 2013.
Langkah besar Almiron dimulai saat ia hijrah ke klub Argentina, Lanus, pada 2015. Di sana, ia sukses membawa timnya menjuarai Argentina Primera Division 2016. Prestasi tersebut membawanya terbang ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Atlanta United di Major League Soccer (MLS).
Di MLS, Almiron menjelma menjadi bintang besar dengan torehan prestasi sebagai berikut:
- Masuk dalam daftar MLS Best XI (11 Pemain Terbaik) selama dua musim berturut-turut.
- Membawa Atlanta United menjuarai MLS Cup 2018.
- Memecahkan rekor transfer MLS saat diboyong Newcastle United pada 31 Januari 2019 dengan nilai 21 juta pounds.
- Kembali ke Atlanta United pada 2025 hingga sekarang.
Kini, di perhelatan akbar Piala Dunia 2026, Miguel Almiron kembali mengenakan jersey Albirroja. Sebagai gelandang veteran, kehadirannya menjadi angin segar bagi skuad Paraguay. Ia bukan sekadar pemain, melainkan pemimpin yang diharapkan mampu membawa timnya melangkah jauh di tanah Amerika.
Peran Strategis: Dalam skema permainan Paraguay, Almiron berperan sebagai penghubung vital antara lini tengah dan lini serang. Visi permainan yang tajam dan kemampuan mengatur tempo menjadikannya kunci strategi pelatih.
Meskipun persaingan di fase grup sangat ketat, ekspektasi terhadap Almiron tetap tinggi. Dengan dukungan generasi muda Paraguay yang berbakat, pemain yang sering disebut “kembaran” Raditya Dika ini optimistis dapat memberikan kejutan. World Cup 2026 mungkin menjadi panggung terakhir bagi sang veteran untuk mengukir tinta emas bersama tim nasional sebelum gantung sepatu.
“Pengalaman adalah guru terbaik dalam sepak bola,” ungkap Almiron. Filosofi inilah yang ia bawa ke lapangan hijau untuk menjaga ketenangan tim di bawah tekanan besar turnamen internasional. (E-3)