MANUSIA memang belum menginjakkan kaki di Mars maupun bulan-bulan Saturnus. Namun, robot penjelajah terus berkembang pesat dan menjadi ujung tombak eksplorasi luar angkasa. Terbaru, NASA menguji rover prototipe bernama ERNEST (Exploration Rover for Navigating Extreme Sloped Terrain) di gurun Colorado, Amerika Serikat, dengan hasil yang melampaui ekspektasi.
Selama uji coba tujuh hari, ERNEST menempuh jarak sekitar 26 kilometer hanya dalam 37 jam perjalanan. Sebagai perbandingan, rover Opportunity membutuhkan hampir 15 tahun untuk mencatat total jarak sekitar 45 kilometer di Mars, sedangkan Curiosity yang beroperasi sejak 2012 baru menempuh sekitar 37 kilometer.
Keunggulan ERNEST bukan hanya soal kecepatan. Rover sepanjang 1,2 meter ini dirancang untuk menghadapi medan ekstrem yang sulit dilalui rover generasi sebelumnya.
“Pengujian ini membantu kami menyempurnakan perangkat keras mobilitas dan perangkat lunak otonomi untuk menavigasi jarak ekstrem di berbagai jenis medan dan kondisi pencahayaan yang diperkirakan ada di Bulan,” kata Issa Nesnas, teknolog utama di Jet Propulsion Laboratory (JPL).
NASA kini juga tengah mengembangkan versi ERNEST yang berukuran dua kali lebih besar. Rover tersebut diharapkan mampu menjelajahi permukaan Bulan maupun Mars dengan cakupan wilayah yang jauh lebih luas.
“Kamu bisa melakukan perjalanan sains lintas Bulan, atau Mars, dengan kendaraan ini,” ujar ilmuwan planet JPL, James Keane.
Sementara itu, rover Perseverance juga terus mencatat kemajuan di Mars. Sejak mendarat pada 2021, rover ini telah menempuh lebih dari 42 kilometer, hampir menyamai rekor Opportunity.
Menurut insinyur mobilitas JPL, Mark Maimone, lebih dari 90% perjalanan Perseverance kini dilakukan secara otonom. Rover mampu menganalisis kondisi medan, menghindari rintangan, dan menentukan jalur teraman tanpa kendali langsung dari Bumi.
Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi misi NASA berikutnya, yakni Dragonfly, laboratorium terbang yang dijadwalkan mendarat di Titan, bulan terbesar Saturnus, pada 2034.
Berbeda dengan rover konvensional, Dragonfly akan berpindah lokasi dengan cara terbang seperti helikopter. Misi ini bertujuan mempelajari kondisi kimia Titan yang diyakini menyerupai Bumi purba sebelum kehidupan muncul.
“Dragonfly bukan misi untuk mendeteksi kehidupan. Ini adalah misi untuk menyelidiki kimia yang mendahului biologi di Bumi,” kata Peneliti Utama Dragonfly, Zibi Turtle.
Kemampuan otonom menjadi sangat penting karena Titan berada sangat jauh dari Bumi. Sinyal komunikasi membutuhkan waktu sekitar 70–90 menit, sehingga Dragonfly harus mampu mengambil banyak keputusan secara mandiri selama menjalankan misinya.
Selain Dragonfly, berbagai misi eksplorasi lain juga sedang dipersiapkan. European Space Agency (ESA) menargetkan rover Rosalind Franklin mulai menjelajahi Mars sekitar 2030. Para ilmuwan juga berharap suatu saat robot penjelajah dapat dikirim ke Enceladus, bulan Saturnus yang diyakini menyimpan lautan cair di bawah lapisan es dan menjadi salah satu kandidat terkuat lokasi kehidupan di luar Bumi.
Perkembangan teknologi seperti ERNEST menunjukkan bahwa masa depan eksplorasi antariksa akan semakin mengandalkan robot yang mampu bergerak lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih mandiri. Sebelum manusia tiba di dunia-dunia baru, kemungkinan besar para robot inilah yang akan membuka jalan. (MSN/Z-2)