SETIDAKNYA delapan orang dikonfirmasi tewas dan puluhan pekerja lainnya masih terjebak di bawah tanah setelah ledakan gas mengguncang sebuah tambang batu bara di China utara. Menurut laporan media pemerintah pada Sabtu (23/5), insiden maut tersebut terjadi pada Jumat malam sekitar pukul 19.29 waktu setempat.
Ledakan ini tepatnya melanda tambang batu bara Liushenyu yang terletak di Kota Changzhi, Provinsi Shanxi. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan ada total 247 pekerja yang berada di bawah tanah saat ledakan terjadi.
Hingga Sabtu pagi pukul 06.00 waktu setempat, sebanyak 201 pekerja berhasil dievakuasi dan dibawa ke permukaan dengan selamat. Otoritas manajemen darurat lokal menyatakan, selain delapan korban jiwa yang telah dikonfirmasi, masih ada 38 pekerja yang hingga kini terjebak di dalam tambang.
Xinhua sebelumnya melaporkan bahwa kadar karbon monoksida, gas yang sangat beracun dan tidak berbau, telah “melebihi batas” di dalam tambang setelah ledakan. Beberapa pekerja yang masih terjebak di bawah tanah dilaporkan berada dalam “kondisi kritis”.
Hingga saat ini, upaya penyelamatan intensif masih terus dilakukan oleh tim darurat di lokasi kejadian.
“Penyebab kecelakaan sedang dalam penyelidikan lebih lanjut,” tulis laporan Xinhua.
Provinsi Shanxi dikenal sebagai ibu kota penambangan batu bara di Tiongkok dan menjadi rumah bagi beberapa tambang yang kerap mengalami kecelakaan di masa lalu.
Meskipun standar keselamatan tambang di negara tersebut telah mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan fatal masih sering terjadi. Hal ini umumnya disebabkan oleh penerapan protokol keselamatan kerja yang sering kali longgar di industri tersebut. Tiongkok sendiri saat ini masih menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia sekaligus penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, terlepas dari rekor kecepatan mereka dalam memasang kapasitas energi terbarukan. (AFP/CNN/Z-2)