SEBUAH asteroid raksasa bernama 1989 JA (7335), yang memiliki diameter sekitar 1.800 meter atau hampir empat kali tinggi Empire State Building, melintas di dekat Bumi. Meski tergolong sebagai asteroid berpotensi berbahaya, benda langit tersebut dipastikan tidak akan menimbulkan ancaman bagi Bumi.
Peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa asteroid tersebut melintas pada jarak yang masih sangat aman.
“Bumi tetap aman karena asteroid ini melintas pada jarak sekitar 10 kali jarak antara Bumi dan Bulan,” ujar Thomas.
Asteroid 1989 JA mengorbit Matahari setiap sekitar 570 hari dan sesekali melintas relatif dekat dengan orbit Bumi. Pada lintasan kali ini, asteroid berada pada jarak sekitar 4 juta kilometer dari Bumi atau sekitar 2,5 juta mil, dengan kecepatan mencapai 76.000 kilometer per jam.
Thomas menegaskan bahwa meski asteroid ini berukuran sangat besar, lintasannya masih jauh sehingga tidak dikategorikan sebagai ancaman langsung bagi Bumi. Bahkan, asteroid tersebut tidak dapat diamati dengan mata telanjang karena jaraknya yang sangat jauh.
Meski demikian, NASA memasukkan 1989 JA ke dalam kategori Potentially Hazardous Asteroid (PHA) atau asteroid yang berpotensi berbahaya. Status tersebut diberikan bukan karena adanya ancaman tabrakan dalam waktu dekat, melainkan karena ukurannya yang sangat besar serta orbitnya yang berada relatif dekat dengan orbit Bumi. Jika suatu saat lintasannya berubah dan mengarah ke Bumi, asteroid ini berpotensi menimbulkan kerusakan besar.
Asteroid 1989 JA diperkirakan baru akan kembali mendekati Bumi pada 23 Juni 2055. Namun, pada saat itu jaraknya diperkirakan sekitar 70 kali lebih jauh dibandingkan jarak Bumi ke Bulan.
Menurut Live Science, asteroid ini merupakan salah satu dari lebih dari 29.000 Near-Earth Objects (NEO) yang dipantau NASA setiap tahun. NEO adalah objek antariksa yang lintasannya berada dalam jarak sekitar 48 juta kilometer dari orbit Bumi.
Asteroid 1989 JA juga termasuk dalam kelompok asteroid Apollo, yaitu asteroid yang mengorbit Matahari dan secara berkala memotong orbit Bumi.
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ancaman asteroid di masa depan, NASA terus mengembangkan teknologi pertahanan planet. Salah satunya melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) yang diluncurkan pada November 2021.
Dalam misi tersebut, wahana DART sengaja ditabrakkan ke asteroid Dimorphos pada 2022 untuk menguji apakah tumbukan tersebut mampu mengubah lintasan asteroid. Uji coba itu tidak bertujuan menghancurkan asteroid, melainkan menggeser orbitnya sebagai simulasi jika suatu hari ditemukan asteroid yang benar-benar mengancam Bumi. (H-4)